Memasuki Kemarau, KAI Daop 7 Madiun Imbau Petani Tak Bakar Jerami Dekat Jalur Kereta Api

Dia mengungkapkan, dalam satu bulan terakhir, setidaknya telah terjadi dua kali pemberhentian darurat perjalanan kereta api di wilayah Daop 7 Madiun karena ada pembakaran jerami di area persawahan di dekat jalur kereta api.
“Yang terakhir di dekat (Stasiun) Walikukun, Ngawi, beberapa hari lalu. Karena ada pembakaran jerami di sawah yang merembet mendekati jalur kereta api,” kata Tohari merujuk pada pemberhentian luar biasa Km 216+500 petak jalan antara Stasiun Walikukun-Stasiun Kedungbanteng pada Senin, 13 Juli 2026.
Menurut Tohari, melintasi titik api merupakan hal yang berbahaya bagi perjalanan kereta api karena dapat menyulut kebakaran terutama di area lokomotif, di mana terdapat bahan bakar minyak.
“Sekalipun kereta melewati api dalam kecepatan tinggi, tetap saja sangat berisiko. Kita tidak bisa mengambil risiko yang membahayakan banyak orang terutama penumpang,” tegasnya.
Dia mengatakan, risiko semakin tinggi jika yang melintas adalah kereta api barang yang membawa muatan logistik atau bahan yang mudah terbakar termasuk tanki bahan bakar minyak (BBM).
Tohari menambahkan bahwa kejadian pemberhentian luar biasa tidak hanya terjadi di wilayah Daop 7 Madiun, tetapi juga di wilayah operasi PT KAI lainnya.
“Kejadian pembakaran jerami di area persawahan yang dekat dengan jalur kereta api selama musim kemarau ini sudah berulang kali terjadi. Tidak hanya di Daop 7,” ujarnya.
Ketika terjadi pemberhentian luar biasa, menurut dia, maka akan berdampak pada perjalanan kereta api lainnya.
Di sisi lain, Tohari menyebut, jalur kereta api di sejumlah wilayah operasi termasuk Daop 7 Madiun, paling banyak melintasi area persawahan.
Situasi ini membutuhkan kewaspadaan khusus karena tidak hanya terdapat jerami dan rumput kering tetapi juga adanya faktor angin kencang yang dapat memicu titik api pembakaran jerami di persawahan merembet cepat ke jalur kereta api.
Untuk itu, Tohari mengharapkan petani memastikan aktivitas pembakaran jerami di area persawahan di musim kemarau ini tidak merembet ke jalur kereta api.
“Kombinasi antara material kering dan angin kencang membuat api sekecil apa pun akan sangat cepat menjalar menuju ruang manfaat jalur kereta api,” katanya.
“Sebaiknya jika membakar jerami ditunggu sampai titik api benar-benar mati,” ujar Tohari lagi.
Lebih lanjut, dia mengatakan, PT KAI Daop 7 Madiun terus melakukan patroli rutin di sepanjang jalur rawan, menggencarkan sosialisasi langsung kepada para kelompok tani di sekitar rel, serta menyiagakan alat pemadam api ringan (APAR) di pos-pos penjagaan.
“KAI tidak akan segan mengambil langkah hukum tegas bagi siapa saja yang dengan sengaja melakukan aktivitas yang membahayakan keselamatan perjalanan kereta api,” pungkasnya.
Sebelumnya: Mitos atau Fakta, Smart Key Digesek ke Kepala Bikin Sinyal Kuat Lagi?
Selanjutnya: Takhayul Bikin Rumah Angker Sulit Laku di Jepang, Apa Solusinya?
Artikel Terkait
- JHT Dicairkan Kena PPh, Apakah Peserta Bayar Pajak Dua Kali?
- Guru Besar IPB Sebut Kondisi Laut Indonesia Memprihatinkan
- Ada Dua Demo di Jakarta Hari Ini, Hindari Potensi Macet di Lokasi Berikut
- Link dan Jadwal Inggris Vs Perancis di Perebutan Juara 3 Piala Dunia 2026
- Prabowo Bicara Investasi di RI: Investor Untung tapi Rakyat Harus Sejahtera
- TNI AD Bentuk Tim Investigasi Usut Ledakan Gudang Amunisi Madiun
- Ampas Kopi Gayo "Disulap" jadi Kemasan Pangan Ramah Lingkungan
- Jadwal KRL Solo-Jogja Minggu 19 Juli 2026, Cek Jam Keberangkatan hingga Malam
