Penurunan Tanah Capai 16 cm Per Tahun, Bappeda Ungkap Ancaman Rob Pantura Jateng

Penurunan muka tanah menjadi salah satu faktor yang memperparah ancaman rob di kawasan Pantai Utara (Pantura) Jawa Tengah.
Di Kota Semarang, penurunan muka tanah disebut mencapai rata-rata sekitar 12 sentimeter per tahun, sedangkan di Demak dan Pekalongan, penurunannya mencapai 16 sentimeter per tahun.
Kepala Badan Perencanaan Pembangunan Daerah (Bappeda) Jawa Tengah Yusmanto mengatakan, penurunan muka tanah di sejumlah wilayah Pantura terjadi dengan kecepatan yang berbeda-beda sesuai kondisi tanah dan penggunaan air tanah di setiap daerah.
"Kalau di Kota Semarang ini berkisar rata-rata 12 sentimeter per tahun. Kalau Demak itu mungkin lebih dalam lagi sampai 16. Kemudian kalau yang Pekalongan kurang lebih sampai 16 juga," kata Yusmanto saat dikonfirmasi, Senin (20/7/2026).
Hal yang memperparah penurunan muka tanah
Dia menilai penurunan muka tanah tersebut diperparah dengan kenaikan permukaan laut akibat perubahan iklim.
Kondisi itu membuat wilayah Pantura menghadapi ancaman ganda, yakni tanah yang terus ambles sementara permukaan laut mengalami kenaikan.
"Tanahnya ambles, lautnya naik. Jadi kalau kita lihat di Pantai Utara ini dari Brebes sampai Rembang aslinya semuanya kena," ujar dia.
Yusmanto mengatakan, dampak paling parah terjadi di sejumlah wilayah seperti Tegal, Pekalongan, Semarang dan Demak.
“Kalau Pantura ini kena abrasi dan pengaruh perubahan iklim, potensi ekonominya yang akan hilang juga besar,” bebernya.
Dia mengungkapkan salah satu faktor yang berkontribusi terhadap penurunan muka tanah adalah pengambilan air tanah.
Kondisi itu disebut terlihat di Pekalongan yang memiliki industri batik dengan kebutuhan air bersih cukup tinggi.
"Kalau Pekalongan karakteristiknya kan dia diambil air tanahnya untuk batik. Batik itu sebenarnya kebutuhan air tawarnya, air bersihnya untuk mencuci berkali-kali itu memang cukup tinggi," katanya.
Perlu upaya mengurangi pengambilan air tanah
Yusmanto menilai, upaya mengurangi pengambilan air tanah harus diikuti dengan penyediaan sumber air alternatif bagi masyarakat dan industri.
Ia mencontohkan penyediaan Sistem Penyediaan Air Minum (SPAM) Petanglong untuk memenuhi kebutuhan air tanpa bergantung pada air tanah.
Namun, penyediaan air baku juga menghadapi tantangan karena kapasitas bendungan yang belum mencukupi sehingga terdapat potensi kekeringan selama sekitar empat bulan.
"Karena kapasitas bendungannya belum ada sehingga ada potensi 4 bulan kering. Nah, itu tantangannya," ujarnya.
Yusmanto mengatakan, ancaman rob di Pantura tidak dapat ditangani hanya dengan pembangunan tanggul tetapi juga pengendalian pengambilan air tanah serta menyediakan sumber air alternatif.
Sebelumnya: China Tinggalkan Properti, AI dan Robot Jadi Mesin Pertumbuhan Baru
Selanjutnya: UAD Resmi DO Mahasiswa Terduga Pelaku Kekerasan Seksual
Artikel Terkait
- Waka BGN Ogah Ungkap Harga Motor Listrik di Rapat DPR: Materi Penyidikan
- Prabowo: Senjata RI Diakui Dunia, Menang Pertandingan Menembak 12 Kali
- Jaksa Cecar Anak Buah Eks Ketua Ombudsman soal Atensi
- Revitalisasi Keraton Solo Dikebut, 300 Pekerja Dilibatkan
- Mayoritas Warga AS Perkirakan Perang Iran Akan Lama
- LPTQ Tangsel Disebut Dapat Dana Hibah Rp 11 Miliar, Pemkot: Cuma Rp 4,75 Miliar
- BI Ingin Perkuat Posisi Indonesia sebagai Produsen Kopi Terbesar Keempat Dunia
- Umur Pendek Ancaman Trump soal Tarif 20% di Selat Hormuz
